Thursday, October 12, 2006

Surprise Dalam Toples

Di film-film, adegan berpisah biasanya digambarkan dengan adanya sesuatu yang ingin diberikan sebagai kenang-kenangan. Tidak selalu benda, biasanya lebih pada sesuatu yang emosional: peluk, cium, tatapan lama, tepukan di punggung dsb.

Kalau saya pergi, Ibu selalu menghentikan aktivitasnya seketika itu juga untuk mengantar saya sampai pagar depan rumah, mencium kedua pipi setelah sebelumnya membuat tanda salib di dahi dan punggung saya. Ritual itu belum selesai, Ibu akan menatap saya sampai hilang dari pandangannya. Sementara ayah biasanya hanya senyam senyum sambil meneruskan kegiatannya.

Jadi dalam perjalanan mengantarkan ayah ke bandara untuk pulang ke Jakarta, saya tidak pernah mengira ayah yang lupa tanggal ulang tahun saya itu akan bercerita kalau dia meninggalkan sesuatu untuk saya. Ayah yang cuek dan anti cium peluk itu meninggalkan sesuatu di dalam toples kesayangan saya. (toples? Saya baru sadar ayah itu produk jaman dulu sekali).

Saya belum tahu sesuatu itu apa. Ayah hanya bilang “ Eh aku ninggalin anu untuk kamu di dalam toples di lemari kaca”. Ayah tidak membahas anu itu apa , saya juga tidak bertanya. Kemudian ayah bercerita kalau dia ketemu temannya di daerah Ketandan. Dulu ayah pernah ditolong sama temannya itu di kala jaman susah dulu ( apa bedanya dengan jaman susah sekarang ya? Sama-sama susahnya). Teman ayah itu punya toko perhiasan. Nama tokonya diambil dari nama pewayangan. Saya ingin sekali menyertakan nama teman ayah itu disini , tapi ayah saya saja lupa. Kata ayah, “ Aku masuk toko Werkudoro tapi kok nggak ada orang yang mirip dia. Mana aku itu lupa namanya”. Aku udah mau pulang karena aku nggak nemu-nemu temenku itu, tapi kok aku liat toko Gatot Koco, aku iseng masuk, eh kok ada yang kayaknya mirip dia”. Pertemuan itu sepertinya panjang karena ayah sampai dijamu makan siang berupa bakmi goreng dan mereka ngobrol tentang batu akik koleksi ayah saya yang jumlahnya hampir memenuhi toples.

Mendekati bandara, ayah kemudian berkata, “ Trus temenku itu emasnya bagus-bagus, dia punya tukang sendiri, jadi tadi aku beliin kamu gelang”. Ayah membelikan sesuatu yang tidak pernah saya kira akan dia berikan kepada saya, gelang emas . “ Itu ada suratnya. Surat itu di dalam dompet , semuanya di dalam toples. Kalau saat itu saya tidak konsen menyetir dan ayah ada di hadapan saya, mata saya mungkin akan memerah seperti di film-film. Untung ayah saya tidak romantis. Muka ayah biasa saja, menatap lurus ke depan sambil mulutnya terus bercerita, cerita yang tidak bisa lagi saya dengarkan karena diri saya sedang dipenuhi rasa yang tidak bisa saya jelaskan.

Sebelum ayah turun dari mobil, dia sambil senyan senyum berpesan “ Nanti kalau kamu lagi susah, gelangnya dijual saja”. Lalu tanpa babibu ayah menghilang masuk ke dalam ruang check in. Ayah saya yang tidak romantis itu terlihat begitu romantis.

KETAN HITAM FAVORIT

Akhir-akhir ini pagi saya diawali oleh suara jeruji sepeda berputar, langkah-langkah kaki di antaranya, gemerincing kunci pintu bertemu dengan lubangnya, dan diakhiri dengan kayuhan sepeda yang makin menjauh. Ayah pergi ke misa pagi. Saya meneruskan awal hari itu dengan memejamkan mata kembali, mencari kehangatan yang lebih erat dengan merapatkan selembar selimut.

Saya baru bangun kalo matahari sudah menembus korden jendela dan jam weker yang menjerit untuk kesekian kalinya. Setelah mandi, saya mencari hitam manis favorit saya, bubur ketan hitam di meja makan. Setelah belasan tahun hilang, bubur ini ada kembali di depan hidung. Hmmm wangi. Bubur ini kesukaan saya sejak SD, selama itu pula saya tidak pernah menemukan yang legit dan manisnya pas seperti yang dijual encik tua di pasar Pathuk, Yogyakarta.

Berkat ayah , saya bisa menikmati kembali bubur ini. Meski bubur ini terhidang tiap pagi dalam seminggu ini, saya tidak pernah bosan sarapan dengan makanan yang kata teman saya ini lengket, (saya nggak terima waktu dia bilang begitu, apalagi kalau itu dihubungkan dengan usaha ayah yang tiap pagi ke pasar).

Saya tidak pernah meminta ayah untuk membelikan bubur ini. Ayah yang selalu menyediakannya tiap pagi di meja makan untuk saya. Sambil perhatian saya tertuju ke semangkuk ketan hitam yang mengkilat dihiasi dengan putihnya santan cair, ayah bercerita kalau ternyata pembuat bubur ini adalah anak dari encik tua yang sudah tidak ada lagi itu. Cerita itu menjawab penasaran saya, masa encik itu masih ada, dulu waktu saya SD saja dia sudah tua. Cerita itu kemudian ayah sambung dengan cerita-cerita baru maupun ulangan yang menjadi nostalgianya di kota yang dulu pernah kami tinggali selama belasan tahun ini.

Pagi hari ini saya tidak terbangun oleh langkah kaki ayah dan bunyi kayuhan pedal sepeda yang menjauh. Saya tidak menemukan bubur ketan hitam. Saya menatap sepeda yang terpajang di dapur. Sebenarnya dengan mudah saya bisa saja membeli bubur itu sendiri. Tapi bukan ketan yang saya inginkan. Tiba-tiba saya merindukan hal yang lain, meski cerita ayah itu itu saja dan kadanng berulang-ulang. Saya melihat jam dinding yang kemarin ayah pasang. Jam segini pesawat ayah pasti sudah mendarat di Jakarta.