Surprise Dalam Toples
Di film-film, adegan berpisah biasanya digambarkan dengan adanya sesuatu yang ingin diberikan sebagai kenang-kenangan. Tidak selalu benda, biasanya lebih pada sesuatu yang emosional: peluk, cium, tatapan lama, tepukan di punggung dsb.
Kalau saya pergi, Ibu selalu menghentikan aktivitasnya seketika itu juga untuk mengantar saya sampai pagar depan rumah, mencium kedua pipi setelah sebelumnya membuat tanda salib di dahi dan punggung saya. Ritual itu belum selesai, Ibu akan menatap saya sampai hilang dari pandangannya. Sementara ayah biasanya hanya senyam senyum sambil meneruskan kegiatannya.
Jadi dalam perjalanan mengantarkan ayah ke bandara untuk pulang ke Jakarta, saya tidak pernah mengira ayah yang lupa tanggal ulang tahun saya itu akan bercerita kalau dia meninggalkan sesuatu untuk saya. Ayah yang cuek dan anti cium peluk itu meninggalkan sesuatu di dalam toples kesayangan saya. (toples? Saya baru sadar ayah itu produk jaman dulu sekali).
Saya belum tahu sesuatu itu apa. Ayah hanya bilang “ Eh aku ninggalin anu untuk kamu di dalam toples di lemari kaca”. Ayah tidak membahas anu itu apa , saya juga tidak bertanya. Kemudian ayah bercerita kalau dia ketemu temannya di daerah Ketandan. Dulu ayah pernah ditolong sama temannya itu di kala jaman susah dulu ( apa bedanya dengan jaman susah sekarang ya? Sama-sama susahnya). Teman ayah itu punya toko perhiasan. Nama tokonya diambil dari nama pewayangan. Saya ingin sekali menyertakan nama teman ayah itu disini , tapi ayah saya saja lupa. Kata ayah, “ Aku masuk toko Werkudoro tapi kok nggak ada orang yang mirip dia. Mana aku itu lupa namanya”. Aku udah mau pulang karena aku nggak nemu-nemu temenku itu, tapi kok aku liat toko Gatot Koco, aku iseng masuk, eh kok ada yang kayaknya mirip dia”. Pertemuan itu sepertinya panjang karena ayah sampai dijamu makan siang berupa bakmi goreng dan mereka ngobrol tentang batu akik koleksi ayah saya yang jumlahnya hampir memenuhi toples.
Mendekati bandara, ayah kemudian berkata, “ Trus temenku itu emasnya bagus-bagus, dia punya tukang sendiri, jadi tadi aku beliin kamu gelang”. Ayah membelikan sesuatu yang tidak pernah saya kira akan dia berikan kepada saya, gelang emas . “ Itu ada suratnya. Surat itu di dalam dompet , semuanya di dalam toples. Kalau saat itu saya tidak konsen menyetir dan ayah ada di hadapan saya, mata saya mungkin akan memerah seperti di film-film. Untung ayah saya tidak romantis. Muka ayah biasa saja, menatap lurus ke depan sambil mulutnya terus bercerita, cerita yang tidak bisa lagi saya dengarkan karena diri saya sedang dipenuhi rasa yang tidak bisa saya jelaskan.
Sebelum ayah turun dari mobil, dia sambil senyan senyum berpesan “ Nanti kalau kamu lagi susah, gelangnya dijual saja”. Lalu tanpa babibu ayah menghilang masuk ke dalam ruang check in. Ayah saya yang tidak romantis itu terlihat begitu romantis.
Kalau saya pergi, Ibu selalu menghentikan aktivitasnya seketika itu juga untuk mengantar saya sampai pagar depan rumah, mencium kedua pipi setelah sebelumnya membuat tanda salib di dahi dan punggung saya. Ritual itu belum selesai, Ibu akan menatap saya sampai hilang dari pandangannya. Sementara ayah biasanya hanya senyam senyum sambil meneruskan kegiatannya.
Jadi dalam perjalanan mengantarkan ayah ke bandara untuk pulang ke Jakarta, saya tidak pernah mengira ayah yang lupa tanggal ulang tahun saya itu akan bercerita kalau dia meninggalkan sesuatu untuk saya. Ayah yang cuek dan anti cium peluk itu meninggalkan sesuatu di dalam toples kesayangan saya. (toples? Saya baru sadar ayah itu produk jaman dulu sekali).
Saya belum tahu sesuatu itu apa. Ayah hanya bilang “ Eh aku ninggalin anu untuk kamu di dalam toples di lemari kaca”. Ayah tidak membahas anu itu apa , saya juga tidak bertanya. Kemudian ayah bercerita kalau dia ketemu temannya di daerah Ketandan. Dulu ayah pernah ditolong sama temannya itu di kala jaman susah dulu ( apa bedanya dengan jaman susah sekarang ya? Sama-sama susahnya). Teman ayah itu punya toko perhiasan. Nama tokonya diambil dari nama pewayangan. Saya ingin sekali menyertakan nama teman ayah itu disini , tapi ayah saya saja lupa. Kata ayah, “ Aku masuk toko Werkudoro tapi kok nggak ada orang yang mirip dia. Mana aku itu lupa namanya”. Aku udah mau pulang karena aku nggak nemu-nemu temenku itu, tapi kok aku liat toko Gatot Koco, aku iseng masuk, eh kok ada yang kayaknya mirip dia”. Pertemuan itu sepertinya panjang karena ayah sampai dijamu makan siang berupa bakmi goreng dan mereka ngobrol tentang batu akik koleksi ayah saya yang jumlahnya hampir memenuhi toples.
Mendekati bandara, ayah kemudian berkata, “ Trus temenku itu emasnya bagus-bagus, dia punya tukang sendiri, jadi tadi aku beliin kamu gelang”. Ayah membelikan sesuatu yang tidak pernah saya kira akan dia berikan kepada saya, gelang emas . “ Itu ada suratnya. Surat itu di dalam dompet , semuanya di dalam toples. Kalau saat itu saya tidak konsen menyetir dan ayah ada di hadapan saya, mata saya mungkin akan memerah seperti di film-film. Untung ayah saya tidak romantis. Muka ayah biasa saja, menatap lurus ke depan sambil mulutnya terus bercerita, cerita yang tidak bisa lagi saya dengarkan karena diri saya sedang dipenuhi rasa yang tidak bisa saya jelaskan.
Sebelum ayah turun dari mobil, dia sambil senyan senyum berpesan “ Nanti kalau kamu lagi susah, gelangnya dijual saja”. Lalu tanpa babibu ayah menghilang masuk ke dalam ruang check in. Ayah saya yang tidak romantis itu terlihat begitu romantis.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home